Nasihat Hari Raya (Bagian 1)

Saudaraku, pada hari raya yang penuh bahagia dan suka cita ini, berusahalah agar kita tetap berpegang teguh dengan perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan sampai terlalu bahagia menjadikan diri kita lupa dan lalai dari Syariat-Nya subhanahu wa ta’ala. Maka itu, pada tulisan singkat ini kami mempersembahkan beberapa untaian kalimat nasihat yang sangat penting bagi setiap muslim.

Saudaraku, simaklah dengan baik nasihatku ini. Ambillah pelajaran darinya dan perhatikanlah ia dengan baik. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua.

PERTAMA: Melepas Ramadan dan menyambut hari raya dengan bermaksiat

Perlu engkau ketahui saudaraku, sebagian orang begitu gembira dengan kehadiran hari raya, dan ini adalah wajar. Namun yang tidak wajar, ketika sebagian dari mereka berpesta dengan benda-benda yang diharamkan di dalam Islam. Mereka minum-minuman keras, nge-ganja, nyimeng, kembali mengumbar syahwat, dan perbuatan haram lainnya yang tentu saja tidak disukai oleh Allah ta’ala.

Saudaraku, jangan sampai dirimu menjadi seperti mereka. Tinggalkanlah perbuatan tidak baik tersebut dan jauhilah orang-orang seperti mereka. Berhati-hatilah! Sebab keburukan dapat menular dan kemaksiatan begitu cepat dapat menyebar. Hanya kepada Allah semata kita memohon pertolongan.

KEDUA: Begadang pada malam hari raya tanpa ada faedah

Saudaraku, termasuk hal yang tidak disukai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bila seorang muslim menghabiskan malam hari raya dengan begadang tanpa faedah dan kepentingan. Engkau menghidupkannya dengan ngobrol hal yang tidak jelas, main gaple atau kartu, nge-gosip ngalor ngidul, dan kesibukan tak berfaedah lainnya.

Abu Barzakh al-Aslami rahimahullah berkata: “Dahulu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum isya’ dan obrolan setelahnya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ketahuilah saudaraku, jika seseorang menghabiskan waktu untuk hal mubah maka dikhawatirkan dapat menyeret kepada hal haram. Lantas bagaimana bila ia menghabiskan waktu yang ada untuk hal haram?! Sekiranya waktu yang ada dimanfaatkan untuk membaca al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, membaca buku agama dan hal bermanfaat lainnya, maka itu adalah kebaikan dan ibadah mulia. Bila tidak demikian, maka segeralah istirahat, cepatlah tidur, toh esok hari engkau dan kaum muslimin lainnya akan bersiap-siap melaksanakan shalat hari raya bersama-sama.

Bila ada seorang sengaja begadang dengan alasan bahwa menghidupkan malam hari raya merupakan ibadah mulia, maka ketahuilah hadis yang menjelaskan tentang itu adalah hadis palsu (maudhu’i). Dengan kata lain, itu bukanlah hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadis tersebut berbunyi:

مَنْ أَحْيَى لَيْلَةَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ

Barang siapa yang menghidupkan malam idul firi dan idul adha niscaya hatinya tidak akan mati pada hari matinya hati-hati yang lainnya.

Ini adalah hadis palsu. Silakan periksa penjelasan ulama seputar hadis ini di dalam kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah karya Syaikh al-Albani rahimahullah No. 520, 521.

KETIGA: Berjabat tangan dengan wanita asing (non mahram)

Ketahuilah Saudaraku, di dalam Islam seorang laki-laki tidak diperkenankan berjabat tangan dengan wanita asing (non mahrom) yang tidak halal baginya untuk berjabat tangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengabarkan bahwa beliau tidak berjabat tangan dengan wanita. Bahkan beliau menjelaskan, sekiranya kepala seorang ditusuk dengan besi, itu lebih baik dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّيْ لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita. (Hadis sahih riwayat Ahmad dan Malik)

Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

Sungguh, sekiranya kepala seorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (Hadis sahih riwayat ar-Ruyani)

Oleh karena itu, hendaknya hari raya mulia ini tidak kita nodai dengan kemaksiatan seperti ini. Silakan pelajari siapa saja yang termasuk mahrom bagimu, agar dirimu selamat dari siksa-Nya azza wa jalla.

KEEMPAT: Berduaan dengan wanita yang non mahram atau bercampur baur antara laki-laki dan wanita

Saudaraku, hendaknya seorang laki-laki tidak berduaan dengan wanita yang belum halal baginya, sebab itu termasuk perbuatan yang dapat menyeret kepada doa besar yaitu perzinaan, dan Allah telah menasihati kita agar tidak mendekati perzinaan. Allah berfirman:

وَلاَ تَقْرَبُوْا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاَ

Janganlah kalian mendekati perzinaan. Karena sesungguhnya perzinaan merupakan perbuatan keji dan jalan keburukan. (QS. al-‘Isra’: 32)

Subhanallah, ini merupakan nasihat dari Allah yang begitu indah yang menunjukkan perhatian-Nya kepada kita umat Islam. Selain itu, tatkala dua sejoli yang belum halal berduaan, maka setan akan menjadi pihak ketiganya. Sudikah dirimu mengundang setan untuk menjerumuskan dirimu ke dalam kubangan kemaksiatan?!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita melainkan setan pasti menjadi pihak ketiganya. (Hadis sahih riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi)

Meskipun sekedar berduaan dengan saudari ipar, maka hendaknya itu engkau hindari. Karena saudari ipar bukan termasuk mahrom bagimu dan tidak halal bagimu untuk berduaan dengannya. Bahkan berduaan dengannya dapat menyeret kepada keburukan. Tak jarang kita mendengar perbuatan keji yang terjadi antara seorang laki-laki dengan saudari iparnya. Sebagaimana terkadang kita mendengar hubungan haram yang dilakukan seorang wanita dengan saudara iparnya. Hanya kepada Allah semata kita memohon pertolongan.

Maka itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati kita dari hal tersebut seraya bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Janganlah kalian bercampur baur dengan wanita. Seorang laki-laki dari kaum Anshar bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan ipar? Beliau menjawab: Ipar adalah maut. (Hadis sahih riwayat at-Tirmidzi)

 

Bersambung insyaallah….

One thought on “Nasihat Hari Raya (Bagian 1)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *