Mentauhidkan Allah Asas Utama Pembersih Jiwa

2012-12-27-09-19-08_deco

Pada kesempatan kali ini, akan kami ketengahkan sebuah khotbah Jumat oleh Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al-Badr hafizhahumallah yang beliau sampaikan di Masjid al-Akbar Surabaya pada tanggal 15 Januari tahun 2010 silam yang diterjemahkan oleh kami sendiri (Abu Musa al-Atsari). Semoga bermanfaat bagi para pembacanya. Selamat menyimak !

[KHOTBAH PERTAMA]

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ، وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

 

Ma’asyirol Mukmimin

Para hamba Allah sekalian, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah senantiasa merasa diawasi oleh Allah sebagaimana pengawasan orang yang mengetahui bahwa Rabb-nya Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Hendaknya kalian bertakwa kepada Allah jalla wa ‘ala dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah seraya mengharap pahala Allah, dan meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut akan siksa Allah.

Wahai kaum Mukminin

Sesungguhnya di antara hal teragung yang dapat dipergunakan seorang hamba untuk mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan tazkiyatun nufus (membersihkan/menyucikan diri) dengan mengerjakan amal-amal saleh dan ketaatan-ketaatan yang suci dan dengan menjauhi hal-hal haram dan perbuatan dosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا. وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاَهَا. وَالنَّهَارِ إِذَا جَلاَّهَا. وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا. وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا. وَاْلأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا. وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. asy-Syams: 1-10)

Allah ta’ala bersumpah dengan beberapa ayat yang agung dan makhluk-makhluk-Nya yang besar tersebut bahwasanya siapa saja yang membersihkan jiwanya maka ia akan beruntung, dan bahwasanya yang mengotorinya niscaya ia akan merugi.

Wahai hamba-hamba Allah

Tazkiyatun nufus itu dapat dilakukan dengan dua hal, yang mana keduanya harus diperhatikan agar seorang hamba itu dapat benar-benar dapat membersihkan jiwanya:

PERTAMA, hendaklah ia menjauhi amalan-amalan yang buruk, sifat-sifat yang hina, dan perkara-perkara yang jelek  dan buruk.

ADAPUN PERKARA YANG KEDUA, hendaklah ia berjuang melawan dirinya untuk mengembangkan dan menumbuhkan jiwanya dengan berbagai macam kebaikan dan keutamaan-keutamaan, juga dengan amal-amal saleh. Dengan dua hal inilah, jiwa seseorang itu akan menjadi bersih dan suci.

Adapun membersihkan jiwa ini dengan mengerjakan amal saleh, maka ketika mengerjakan salat Jumat kita sering mendengarkan firman Allah ta’ala:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى. وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).  Dan dia ingat nama Rabb-nya, lalu dia mengerjakan salat. (QS. al-A’la: 14-15)

Jadi zikirmu terhadap Allah ta’ala, salatmu, puasamu, hajimu, baktimu kepada kedua orang tuamu, silaturahmi yang engkau kerjakan, dan usahamu untuk menunaikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang telah Allah wajibkan kepadamu, baik hak-hak yang wajib ditunaikan kepada Allah maupun kepada sesama manusia, maka semua itu dapat menyucikan jiwamu.

Di sisi yang lain, menyucikan jiwa dengan meninggalkan amalan-amalan yang buruk dan sifat-sifat yang hina telah ditunjukkan oleh firman Allah ta’ala:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّواْ مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. an-Nur: 30)

Ayat mulia ini menunjukkan bahwa seorang muslim yang meninggalkan dosa-dosa dan menjauhkan dirinya dari hal-hal haram dan perbuatan-perbuatan keji serta segala hal yang dapat membuat Allah marah dan murka, maka semua itu merupakan bentuk menyucikan jiwa.

Wahai kaum Mukminin

Seagung-agung perkara yang menjadi pokok dasar seseorang dalam membersihkan jiwanya ialah dengan tauhidullah (mentauhidkan/mengesakan Allah) dan mengikhlaskan agama ini hanya kepada-Nya semata, serta mengenal-Nya lebih jauh lagi dengan mempelajari nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, yang telah dijelaskan dalam kitab-Nya dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ. هُوَ اللَّهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ. هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Dialah Allah yang tiada Rabb selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah yang tiada Rabb selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai Asma`ul Husna. Bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Hasyr: 22-24)

Wahai kaum Mukminin

Barang siapa yang paling paham tentang Allah maka ia akan paling takut kepada-Nya, dia akan lebih taat dalam beribadah kepada-Nya dan semakin jauh dari bermaksiat kepada-Nya. Yang demikian ini merupakan bentuk tazkiyatun nufus dan merupakan kesempurnaan dalam mewujudkannya.

Wahai kaum Mukminin

Sesungguhnya yang wajib bagi setiap muslim pada pembahasan yang agung ini, yakni masalah tazkiyatun nufus, hendaklah yang menjadi suri teladan baginya dalam pembahasan ini dan setiap pembahasan agama yang lainnya adalah Rasul mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, dialah seorang rasul pilihan dan suri teladan bagi seluruh umat manusia. Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوْ اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيْرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzab: 21)

Maka itu, sudah sepatutnya kita mengetahui bahwa segala macam tazkiyatun nufus yang dicari dengan jalan selain jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hal itu tidaklah menghasilkan kecuali kerugian dan kehampaan. Sebab, bagaimana ia akan sampai kepada hal tersebut dan bagaimana pula amalannya akan diterima, padahal ia tidak meniti jalannya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wahai kaum Mukminin

Di antara hal yang harus kita perhatikan pada pembahasan ini, yakni tazkiyatun nufus, adalah hendaklah kita menghadap kepada Allah ta’ala dengan baik, hendaklah kita terus memperbaikinya dengan berdoa, memohon, dan terus merengek-rengek kepada-Nya. Karena kesucian jiwa kita ini berada di tangan Allah, sebab Dia adalah Yang Maha menyucikan hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْلاَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَشَاءُ

Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. an-Nur: 21)

Maka itu wajib bagimu untuk menghadap kepada Allah dengan tulus, dan hendaklah engkau senantiasa merengek kepada-Nya dengan berdoa. Dan di antara doa yang agung dalam pembahasan ini adalah, sebuah doa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berucap di dalam doanya:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهاَ

Ya Allah, berikanlah kepada jiwa ini ketakwaannya, dan sucikanlah ia sebab Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang dapat menyucikannya, Engkau Maha Penolong dan Pemelihara-nya.

Wahai kaum Mukminin

Hendaklah kita sama-sama merasakan, bahwasanya kita akan berjumpa dengan Allah ta’ala. Dan pada hari yang agung itu, orang-orang yang menyucikan diri mereka akan mendapat derajat yang paling tinggi dan kedudukan yang paling atas serta balasan yang agung dari Rabb langit dan bumi. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلاَ. جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى

Dan barang siapa datang kepada Rabb-nya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia). (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan). (QS. Thoha: 75-76)

Kita memohon kepada Allah Rabb pemilik Arsy’ yang agung, dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, semoga Dia memberikan taufik kepada kita semua untuk dapat menyucikan jiwa kita masing-masing, dan semoga Dia memperbaiki seluruh urusan kita, karena sesungguhnya Allah ta’ala Maha mendengar setiap doa, dan Dia Maha menerima harapan, dan Cukuplah Allah menjadi penolong kita dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

أَقُوْلُ هَذَا الْقَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُاللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْا اللَّهَ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ

 

[KHOTBAH KEDUA]

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُهْدِ وَالاِمْتِنَانِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللَهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyirol Mukminin

Para hamba Allah sekalian, bertakwalah kepada Allah, sebab barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya ia akan dijaga oleh-Nya

Sesungguhnya hal wajib bagi seorang muslim yang berusaha menyucikan dirinya, hendaklah ia mengetahui bahwasanya meskipun ia banyak mengerjakan amalan, diberikan taufik untuk melaksanakan ketaatan, dan dapat bersungguh-sungguh mengerjakan berbagai macam ibadah, maka tidak boleh ia mendakwakan/mengaku-ngaku bahwa dirinya atau jiwanya telah suci dan dia adalah orang yang baik. Akan tetapi hendaklah ia berusaha mengerjakan ibadah dan melaksanakan ketaatan, sedang ia khawatir dan takut bila amalannya tersebut akan ditolak dan dikembalikan kepada dirinya. Allah ta’ala berfirman ketika menceritakan kaum muslimin yang sempurna:

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا آَتَوْا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. (QS. al-Mukminun: 60)

Disebutkan dalam sebuah riwayat di kitab al-Musnad (Musnad al-Imam Ahmad), bahwasanya Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna ayat tersebut, ia berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَهُوَ الرَّجُلُ يَزْنِيْ وَيَسْرِقُ وَيَقْتُلُ وَيَخَافُ أَنْ يُعَذَّبَ ؟ قَالَ: لاَ يَا ابْنَةَ الصِّدِّيْقِ، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يُصَلِّيْ وَيَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُ وَيَخَافَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ

Wahai Rasulullah, apakah dia (yang dimaksud ayat tersebut) adalah orang yang pernah berzina, mencuri, membunuh dan ia takut disiksa? Beliau menjawab: “Tidak, wahai putri ash-Shiddiq, tapi dia adalah orang yang mengerjakan salat, berpuasa dan bersedekah dan dia takut (amalnya) tidak diterima.”

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim, meskipun ia telah berusaha semaksimal mungkin dalam beribadah, hendaklah ia tidak menyucikan dirinya atau merasa bahwa ia telah suci. Sebab Allah ta’ala berfirman:

فَلاَ تُزَكُّوْا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. an-Najm: 32)

Ketahuilah, wahai hamba Allah, sesungguhnya hamba Allah yang cerdas adalah yang beramal sebagai bekal setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan ia banyak berangan-angan.

Ketahuilah juga bahwa sebaik-baik ucapan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang baru (dalam agama), dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan nerakalah tempatnya.

Panjatkanlah salawat dan salam kepada Muhammad bin Abdullah semoga Allah menjaga kalian, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rabb kalian dalam kitab-Nya. Dia berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. al-Ahzab: 56)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Barang siapa yang bersalawat kepadaku sekali saja maka Allah akan bersalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali. (HR. Muslim)

Terutama (bersalawat) pada hari yang terang sekarang ini yakni hari Jumat, sebab ada hadis sahih tentang hal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka itu, ada sebuah riwayat dari Imam asy-Syafi’i rahimahullah bahwasanya ia berkata:

إِنِّيْ أُحِبُّ الصَّلاَةَ وَالسَّلاَمَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ فيِ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ وَلَكِنَّهُ فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَيَوْمِهَا أَحَبُّ إِلَيَّ

“Sesungguhnya aku mencintai memanjatkan salawat dan salam kepada Rasulullah pada setiap waktu, akan tetapi (memanjatkannya) pada malam dan hari Jumat lebih aku sukai.”

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهاَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ دِيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ

وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا أَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

رَبَّنَا إِنَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، اُذْكُرُوْا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *