Lain Dulu Lain Sekarang

Apabila kita mengamati keadaan generasi dahulu dengan sekarang, akan banyak didapati hal yang berbeda. Bukan dalam urusan dunia yang dimaksud. Namun dalam urusan yang sangat penting, yakni dalam perkara agama. Di antaranya adalah dalam perbedaan pandangan dan sikap terhadap kemaksiatan.

DAHULU

Dahulu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُوْنَ أَعْمَالاً هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهاَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ مِنَ الْمُوْبِقَاتِ

Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan yang pada pandangan kalian ia lebih lembut dari pada rambut, sementara kami dahulu pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya termasuk dosa yang dapat membinasakan. (HR. al-Bukhari)

Beliau mengucapkan hal tersebut di hadapan para Tabi’in. Lantas bagaimana dengan kondisi kaum muslimin sekarang ini yang semakin jauh dari masa tiga generasi mulia? Berbagai macam kemaksiatan menjadi hal biasa. Benar-benar luar biasa, maksiat yang sangat berbahaya menjadi hal yang lumrah. Allahul-musta’an.

Dahulu Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu bercerita:

أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنِ امْرَأَةٍ قُبْلَةً، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: (( وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ )). فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، أَلِيْ هَذَا؟ قَالَ: لِجَمِيْعِ أُمَّتِيْ كُلِّهِمْ

Ada seorang laki-laki yang pernah mencium seorang wanita (yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut. Lalu Allah azza wa jalla menurunkan firman-Nya: “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan dari pada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. (QS. Hud: 114).” Lalu orang itu bertanya: Wahai Rasulullah, apakah ini khusus untukku? Beliau menjawab: Untuk umatku seluruhnya. (HR. Bukhari)

Dahulu seorang muslim yang bermaksiat langsung gerah, gelisah, galau dan risau. Namun sekarang? Beragam kemaksiatan dilakukan tanpa ada rasa bersalah atau bermasalah. Kecupan ringan bukan zamannya lagi. Muda-mudi  -bahkan yang masih belia- sudah berani berzina dengan temannya yang tentu saja belum halal baginya. Allahul-musta’an.

JANGAN MEREMEHKAN MAKSIAT

Saudaraku, sekali-kali jangan sampai kita meremehkan kemaksiatan. Sekecil apapun itu, tetap saja besar di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

al-Auza’i rahimahullah pernah mendengar Bilal bin Sa’id rahimahullah mengatakan:

لاَ تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْمَعْصِيَةِ وَلَكِنِ انْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ

Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, namun cermatilah kepada siapa engkau melakukan dosa?!

Sebagian generasi salaf dahulu rahimahumullah berkata:

إِنِّيْ  َلأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ امْرَأَتِيْ وَدَابَّتِيْ

Sungguh, ketika melakukan kemaksiatan kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya mempengaruhi perilaku istriku dan hewan tungganganku.

SEKARANG

Itu dulu, yang mengucapkannya adalah ulama dahulu. Tapi sekarang berbeda, kemaksiatan benar-benar tak dirasa pengaruhnya. Bisa jadi gambarannya seperti seorang munafik yang diceritakan oleh seorang sahabat mulia ini.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ، فَقَالَ بِهَ هَكَذَا، فَطَارَ

Sesungguhnya orang mukmin melihat dosanya seolah-olah ia berada di bawah gunung, ia khawatir gunung itu akan roboh menimpanya. Sedangkan tukang pendosa melihat dosanya seperti seekor lalat yang menempel di hidungnya, ia menyingkirkannya begitu saja (meremehkannya) dan lalat itu pun terbang. (HR. al-Bukhari)

Jika ingin contoh nyata, silakan lihat apa yang dikerjakan oleh kanan kiri kita, muda-mudi sibuk mencari cinta dan menjalin kasih sayang kepada muda-muda sebaya, menggantungkan hatinya kepada pujaan yang belum halal baginya. Zina hampir saja merata –atau bahkan sudah merata.

Selain itu, riba tak dihiraukan, khomer jadi minuman biasa ketika pesta, pesta seks juga bertambah jumlahnya, penyuka sesama semakin berbilang jumlahnya, musik dan goyang aurat kian merajalela. Selain dari itu semua, dusta menjadi makanan sehari-hari, durhaka kepada orang tua pun demikian, khianat sudah sangat lumrah. Mencuri, merampok, korupsi dan perbuatan semacamnya pun sangat biasa dilakukan. Dan maish banyak berbagai dosa dan kemaksiatan lainnnya. Allahul-musta’an. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Semoga Allah terus membimbing kita untuk beramal saleh di tengah terjangan badai fitnah dan maksiat yang semakin tersebar merata. Aamiin, ya Rabb.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *