Syaikh Ali Khasysyan bercerita dalam sebuah artikelnya yang berjudul Nashir al-Hadits wa Mujaddid as-Sunnah, ‘asya wahid al-‘Ashr wa Ashbaha Faqid al-‘Ashr, yang pernah dimuat pada majalah asy-Syaqo`iq, di dalamnya ia bercerita tentang Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullah. Ia berkata:
“Demi Allah, seingatku, belum pernah kedua mataku melihat seorang yang lebih antusias dalam berpegang teguh dengan as-sunnah, lebih semangat dalam menyebarkannya dan lebih mengikutinya daripada Syaikh al-Albani rahimahullah.
Pernah suatu ketika mobil yang beliau kendarai terguling di suatu daerah antara kota Jedah dan Madinah. Orang-orang pun panik lalu berteriak: “Ya Sattar (Yang Maha menutupi), ya Sattar,” (oleh sebab panasnya suhu udara di sana).
Seketika itu pula Syaikh mengomentari ucapan mereka -padahal beliau masih berada di bawah mobil yang terbalik- seraya berkata: Ucapkanlah, Ya Sittir, jangan kalian mengucapan, “Ya Sattar,” sebab as-Sattar bukan termasuk nama Allah, dan dalam sebuah hadits disebutkan:
إِنَّ اللَّـهَ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُحِبُّ السِّتْرَ
Sesungguhnya Allah Maha Hidup Kekal lagi Maha menutupi dan suka menutupi (hamba-hamba-Nya). (Hadits shahih. Lihat Irwa` al-Ghalil, karya beliau, no. 2335)
Pernahkah kalian melihat seorang yang masih sempat-sempatnya menyebarkan sunnah dan hadits pada situasi seperti ini pada zaman sekarang? Demi Allah, tidak ada kecuali kisah tentang Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan Ahmad bin Hambal rahimahullah atau selain keduanya dari generasi ulama salaf dahulu.”
(Oleh Syaikh Ali Khasysyan. Sumber: http://www.4salaf.com)
=========================
Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah berkata: “As-Sittir artinya Yang selalu Maha menutupi hamba-hamba-Nya, tidak mencemarkan keburukan mereka di khalayak ramai, Yang Maha mencintai mereka untuk selalu menutupi diri mereka masing-masing dari apa-apa yang dapat mencemarkan nama baik mereka, menghinakan mereka dan menjatuhkan harkat dan martabat mereka. Ini merupakan keutamaan dan rahmat dari Allah ….” (Fiqh al-Asma` al-Husna, karya beliau, hlm. 307, Cetakan Maktabah al-Malik Fahd), pen.
One thought on “Kisah Apik Dari Balik Mobil Yang Terbalik”