Indahnya Hidup Bersama Al-Quran

Di antara kita insyaallah ada yang memiliki kisah indah bersama al-Qur’anul karim, baik ketika sedang membaca dan menghapalnya, atau pada saat mentadabburi dan mempelajarinya. Demikian pula dengan beberapa sahabat kita berikut ini. Mereka memiliki kisah tersendiri, dan semoga kisah mereka menjadi nasihat dan pelajaran berharga bagi kita semua.

[1]. Akan Bermaksiat Aku Tak Jadi

Dahulu ketika musim liburan aku pernah pergi keluar kota agar bisa bebas bermaksiat. Tiba-tiba di tengah perjalanan aku teringat bahwa kelak diriku akan berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, aku ingat betul sebuah ayat:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” [QS. Yasin: 65].

Seketika itu aku langsung merubah arah untuk kembali ke rumah. Aku banyak memuji Allah atas karunia-Nya yang telah menjaga diri ini dari dosa besar dengan sebab merenungi firman-Nya tersebut.

[2]. Meski Suamiku Marah

Dahulu aku pernah melakukan beberapa kemaksiatan yang diperintahkan oleh suamiku meskipun hukumnya jelas haram, agar suamiku tidak marah. Suatu ketika aku membaca firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” [QS. an-Nur: 63]

Seketika itu hatiku berdebar, anggota badanku bergetar dan aku pun menangis karena  takut -kepada Allah-. Akhirnya aku berjanji kepada Allah untuk tidak bermaksiat kepada-Nya meski suamiku marah.

[3]. Akhirnya Hatiku Merasa Tenang

Ketika aku berusaha untuk istiqomah di atas al-Quran dan as-Sunnah, karib kerabatku menjauh dariku dan teman-temanku mencelaku, sehingga aku merasa kesepian. Aku pun mulai mencaci diriku sendiri, “Mungkin aku salah jalan.” Ketika permasalahan ini sampai pada puncaknya, aku membaca al-Quran sebagaimana kebiasaanku. Seketika itu, mataku tertuju pada sebuah ayat:

وَاللَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يَتُوْبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيْدُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيْلُوْا مَيْلًا عَظِيْمًا

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sementara orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya menginginkan supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” [QS. an-Nisa’: 27]

Akhirnya hatiku kembali tenang dengan jalanku dan keyakinanku semaki menguat bahwa diriku di atas kebenaran.

[al-Qur’an Ghayyaranii, Lajnah ‘Ilmiyyah, Riyadh]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” [QS. al-Qamar: 17]

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” [QS. al-Qamar: 22]

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” [QS. al-Qamar: 32]

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” [QS. al-Qamar: 40]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *