Sungguh istimewa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita, kaum Adam untuk memilih pasangan hidup yang memiliki sifat penyayang. Seorang ibu yang memiliki sifat penyayang akan mewariskan sifat terpuji tersebut kepada putra-putrinya, dan mereka pun akan mewariskan sifat baik tersebut kepada keturunannya, dst. “Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur… “ kata beliau. (HR. Abu Dawud, dll. Hadis sahih)
Untuk meretas generasi saleh yang benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, sifat penyayang saja tidaklah cukup, masih diperlukan poin penting lainnya, dan itu pun telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, di mana dalam membangun sebuah rumah tangga yang mulia, beliau memerintahkan agar kita memilih wanita salehah yang memiliki bekal agama, yang dengannya ia dapat mendidik buah hatinya menjadi insan yang bertakwa. “…Raihlah wanita yang baik agamanya. Bila tidak, engkau akan merugi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Seorang penyair bersenandung:
اْلأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَـهَا أَعْدَدْتَ شَعْباً طَيِّبَ اْلأَعْـرَاق
اْلأُمُّ رَوْضٌ إِنْ تَعْهَدْهُ الْحَيَا بِالـرَّيِّ أَوْرَقَ أَيُّمَا إِيْـرَاق
اْلأُمُّ أُسْتَاذُ اْلأُسْتَاذَةِ الأُلَـى شَغَلَتْ مَآثِرُهُمْ مَدَى اْلآفَـاق
Ibu ibarat sekolah, bila dipersiapkan dengan sebaik-baiknya
Sama halnya mempersiapkan bangsa yang mulia nasabnya
Ibu laksana taman, bila engkau senantiasa memeliharanya
Niscaya akan tumbuh dedaunan yang rindang di dalamnya
Ibu itu adalah gurunya para segenap guru seluruhnya
Kebaikan mereka berpengaruh di seluruh penjuru dunia
Yang akan diketengahkan pada tulisan kali ini bukanlah penjelasan teori seputar kehidupan rumah tangga atau persiapan-persiapan sebelum mengarunginya. Akan tetapi, yang akan disuguhkan adalah tiga kisah ringkas tentang ulama besar, yang telah dididik oleh tangan-tangan lembut ibunda yang berisi keimanan dan ketakwaan. Semoga menjadi inspirasi dan motivasi dalam mencari calon istri yang benar-benar baik dan bertakwa, karena di balik itu ada hikmah yang luar biasa, dan itu dapat dirasakan oleh para kaum Adam yang telah beruntung mendapatkannya. Berikut tiga kisah ringkas menarik tersebut. Semoga bermanfaat.
Kisah Pertama: Ibunda Sufyan ats-Tsauri
Siapa dari kita yang tidak pernah mendengar nama Sufyan ats-Tsauri? Beliau adalah pakar fikih dan hadis di jazirah Arab, salah satu pemilik mazhab fikih yang masyhur pada masanya, beliau adalah “amirul-mukminin fil-hadits”.
Za’idah rahimahullah berkata: “Sufyan adalah pemimpin kaum muslimin.”
Al-Auza’i rahimahullah menuturkan: “Tidak tersisa seorang alim yang disepakati dengan keridaan bersama oleh umat selain Sufyan.”
Imam mulia dan tokoh agama yang satu ini tak lain merupakan buah dan hasil dari didikan ibunya. Sejarah mencatat pengaruh besar bundanya, keutamaan dan kedudukannya, meski dunia begitu kikir tidak menyebutkan siapa namanya.
Abu Abdillah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Waki’ rahimahullah, ia berbagi cerita: “Ummu Sufyan bertutur kepada Sufyan, ‘Ananda, teruslah engkau menuntut ilmu, aku akan cukupi keperluanmu dengan modal mesin pemintalku ini.”
Bundanya dahulu –semoga Allah merahmatinya- bekerja dan memberikan hasil jerih payahnya untuk Sufyan, agar ia dapat meluangkan waktunya untuk menuntut ilmu. Sang bunda pun sering mencari-cari waktu yang tepat untuk memberikan wejangan dan nasihat kepada Sufyan.
Suatu ketika ia pernah berkata kepada Sufyan rahimahullah sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad yang lain: “Ananda, sekiranya engkau menulis sepuluh huruf, maka perhatikanlah apakah engkau melihat pada dirimu ada peningkatan rasa takut (kepada Allah), ketenangan dan kewibawaan? bila engkau tidak melihatnya maka ketahuilah, sesungguhnya hal itu akan menimbulkan mudarat dan tidak memberikan manfaat.”
Dari fenomena ini, maka tak heran bila kita melihat Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menduduki jabatan mulia sebagai seorang imam pada masanya. Bagaimana tidak, sebab ia tumbuh dewasa dalam kasih sayang seorang bunda penyayang, ia meneguk air susu seorang ibu yang rajin menyampaikan nasihat kepadanya dan ia pun bertakwa kepada Allah azza wa jalla.
Kisah Kedua: Ibunda Imam al-Auza’i
Abu ‘Amr al-Auza’i rahimahullah adalah pakar fikih dan seorang Imam dari negeri Syam. Beliau imam yang dipercaya dan kokoh dalam keilmuannya.
Abu Ishaq al-Ghazzari rahimahullah menuturkan: “Aku tidak pernah melihat seorang seperti dua orang ini: al-Auza’i dan at-Tsauri.”
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata tentangnya: “Ulama telah bersepakat akan keimaman, kemuliaan, tingginya kedudukan dan sempurnanya keutamaan al-Auza’i.”
Beliau pun menuturkan perkataan generasi salaf yang ditujukan kepada al-Auza’i terkait sifat-sifat mulia yang ada padanya, seperti zuhud, sangat berhati-hati, berani menyampaikan yang hak, teguh di atas sunnah, fasih dan sifat mulia lainnya.
Lautan ilmu yang satu ini pun tak luput dari hasil didikan seorang ibu yang agung. adz-Dzahabi rahimahullah bercerita: “al-Auza’i lahir di Ba’labakka, ia tumbuh dalam keadaan yatim dan fakir pada didikan ibunya. Para raja tak kuasa mendidik anak-anaknya sebagaimana didikan yang dirasakan oleh al-Auza’i tentang kepribadiannya. Tidak pernah terdengar dari lisannya satupun ucapan buruk melainkan orang yang mendengarnya perlu untuk tabayyun langsung kepadanya. Tidak pernah juga aku melihatnya tertawa terbahak-bahak. Bila mulai membahas seputar hari kiamat maka aku berkata, ‘Gerangan, adakah di majelis ini hati yang tidak menangis?!”
Kisah ketiga: Ibunda Robi’ah ar-Ra’y
Lain cerita dengan ibunya Robi’ah, guru Imam Malik bin Anas. Ia menghabiskan uang sebesar 30.000 dinar yang ditinggalkan suaminya untuk mendidik putranya, Robi’ah. Sang ayah, Farukh pergi ke medan perang, tidaklah ia kembali ke rumah kecuali setelah putranya menjadi dewasa dan menyandang predikat Syaikh. Sebuah predikat yang dibeli oleh ibunya dengan harta suaminya yang tidak sedikit tersebut. Sang suami pun memuji perbuatan baik istrinya.
Mari kita menyimak kisah tentang Robi’ah dari Ibnu Khallikan berikut: “Dahulu Farukh, ayahanda Robi’ah pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah pergi bersama utusan menuju Khurasan, sementara Robi’ah pada waktu itu masih berupa janin di perut ibunya. Sang ayah meninggalkan 30.000 dinar untuk bekal hidup istrinya.
Setelah dua puluh tujuh tahun berlalu Sang ayah kembali ke kota Madinah dengan menunggangi seekor kuda dengan membawa sebuah tombak. Ia turun dari kuda dan mengetuk pintu rumahnya dengan tombak. Lalu Robi’ah keluar dari rumahnya, (melihat pemandangan seperti itu) ia berkata: ‘Hai musuh Allah, engkau hendak menyerang rumahku?!’ Farukh pun menimpali, ‘Hei musuh Allah, justru engkau yang masuk mendatangi istriku.”
Keduanya pun melompat bersiap-siap untuk bertarung, hingga tetangga kanan kiri berdatangan. Akhirnya cerita itu sampai ke telinga Imam Malik bin Anas (murid Robi’ah), mereka semua datang untuk menolong Robi’ah, sehingga kegaduhan semakin menjadi. Satu sama lain saling mengatakan, ‘Aku tidak akan melepaskanmu.’
Ketika melihat Imam Malik datang maka semuanya terdiam. Imam Malik berkata,’Wahai kakek, engkau boleh masuk selain rumah ini.’
Farukh berkata, ‘Ini rumahku, saya adalah Farukh.’
Dari dalam rumah sang istri mendengar suara suaminya, ia keluar dan berkata, ‘dia adalah suamiku, dan ini (seraya menunjuk Robi’ah) adalah anakku yang ia tinggalkan dalam keadaan masih janin di dalam perutku.’
Akhirnya mereka berdua saling berpelukan dan menangis sedih. Farukh masuk ke dalam rumahnya seraya bertanya untuk memastikan, ‘Ini benar anakku”?
Sang istri menjawab, ‘Iya, benar.’
Lalu Farukh berkata, ‘Tolong keluarkan harta yang dulu aku tinggalkan padamu.’
Sang istri menjawab seraya berpaling, ‘Aku telah menyimpannya dan akan aku mengeluarkannya untukmu.’
Di kala itu, Robi’ah keluar menuju masjid dan duduk di majelis untuk menyampaikan ilmu yang dihadiri oleh Imam Malik, al-Hasan al-Bashri dan petinggi-petinggi kota Madinah lainnya. Orang-orang pun ramai berkumpul di sekelilingnya.
Kemudian Sang istri berkata kepada suaminya, ‘Silakan kamu keluar dulu dan kerjakanlah salat di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Lalu Farukh keluar menuju masjid. Sesampainya di sana, ia melihat majelis ilmu yang begitu ramai. Ia pun mendekat dan diam sambil mengamatinya. Melihat ayahnya datang, Robi’ah menolehkan kepalanya agar sang ayah tidak melihatnya, dan waktu itu ia mengenakan penutup kepala yang panjang. Sang ayah ragu-ragu, lalu ia bertanya kepada orang-orang, ‘Siapakah nama ulama ini?’ Orang-orang menjawab, ‘Dia adalah Robi’ah bin Abu Abdurrahman.’ Mendengar nama itu ia bergumam, ‘Sungguh Allah telah mengangkat derajat putraku.’
Ia pun bersegera pulang menuju rumahnya dan berkata kepada Sang istri, ‘Sungguh, aku melihat putramu dalam keadaan yang tidak pernah aku melihat seorang ulama dan pakar fikih pun sepertinya.’
Mendengar perkataan suaminya itu Sang Istri langsung mengatakan, ‘Lantas, mana yang lebih engkau cintai, 30.000 dinar atau keadaan putramu sekarang ini?
Ia menjawab, ‘Demi Allah, tentu saja dia yang lebih aku pilih.’
Sang istri lalu mengatakan, ‘Aku telah menggunakan seluruh hartamu itu untuk mendidiknya hingga seperti sekarang ini.’
Farukh menutup pembicaraan seraya mengatakan, ‘Demi Allah, engkau tidak menyia-nyiakan harta tersebut.’
Ikhtitam
Tiga cerita tersebut adalah sebagian kecil dari ribuan kisah lainnya. Kisah tentang bagaimana pengaruh besar Sang bunda dalam mendidik buah hatinya. Maka itu, penting bagi anda untuk mencari dan terus berusaha untuk mendapatkan istri yang salehah, yang dari rahimnya dapat melahirkan pemuda-pemuda besar, yang dapat membawa Islam menuju kejayaannya. Namun, mencari wanita seperti itu tidaklah mudah. Perbaikilah diri anda, semoga dimudahkan untuk mendapatkannya.
Catatan:
Tiga kisah ringkas di atas di ambil dari kitab ath-Thariiq ilaa al-Walad ash-Shaalih (Upaya Mendapatkan Anak Salih) karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali, Penerbit Dar adh-Dhiya’, tahun 1410 H, hal. 14-22.
Kalisari, 11 al-Muharram 1435 H/15 November 2013
Abu Musa al-Atsari