Biografi Ringkas Imam al-Baghawi

 20130105_090717

Pada tulisan kali ini, kami akan ketengahkan kepada sidang pembaca, sebuah biografi singkat seorang ulama ahli tafsir yang hidup pada abad ke-6 H, yang populer dengan sebutan Imam al-Baghawi. Semoga bermanfaat.

Nama & Nasab

Beliau adalah al-Imam, al-Hafizh, Syaikhul Islam, Penghidup sunah, Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad al-Farra’ al-Baghawi rahimahullah, merupakan ahli tafsir abad ke-6 Hijriah.

Lahir

Dilahirkan di kota Bagsyur. Penisbatan al-Baghawi bukanlah qiyas kepada kota tersebut. Ada yang berkata, kota asal beliau adalah Bagh, yaitu sebuah negeri yang terletak di antara Harat dan Marwarraudz, yang merupakan salah satu negeri di kota Khurasan. Kota Bagh banyak melahirkan ulama ahli hadis dan fikih. Di antara mereka Abul Ahwash Muhammad bin Hayyan al-Baghawi, Abu Ja’far Ahmad bin Mani’ al-Baghdadi, Abu Ja’far Muhammad bin Hayawaih bin Salmawaih bin an-Nadhr bin Midras al-Baghawi, pakar fikih Abu Ya’qub Yusuf bin Ya’qub bin Ibrahim al-Baghawi dan ulama lainnya.

Sifat

Al-Baghawi rahimahullah memiliki beberapa sifat dan keistimewaan yang menjadikannya berhak menyandang gelar Imam, Penghidup sunah, Syaikhul Islam dan beberapa gelar lain yang sering dipakai oleh mereka yang menulis biografi beliau.

Hafal al-Qur’an, tekun membaca, dan paham betul tentang atsar sahabat dan tabi’in dalam bidang ilmu tafsir. Memiliki pandangan yang sempurna tentang mazhab Syafi’i. Mengetahui permasalahan yang diperselisihkan oleh antar mazhab. Seorang Imam dan penghafal hadis, berpengetahuan luas tentang matan, sanad dan keadaan para perawinya.

Memiliki akal yang cemerlang dan ingatan yang selalu waspada. Gemar membahas dan menelaah. Amanat dalam menukil dalil, jujur dalam meriwayatkan, teliti dalam ungkapan, memiliki pemikiran yang unik, mantap dalam menjelaskan dan memiliki ufuk keilmuan yang luas. Memaparkan pendapat mazhab-mazhab beserta dalilnya dengan penuh amanat dan ketelitian. Tidak fanatik dengan mazhab tertentu. Tidak pula mau menjelek-jelekkan mazhab yang lain. Antusias dalam menyebarkan ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah, dan terus berusaha untuk meratakan ajaran keduanya di muka bumi. Kembali kepada jalan yang dititi oleh para sahabat, tabi’in, imam yang empat, serta generasi salaf yang datang setelahnya.

Tidaklah ia mengajar, melainkan dalam keadaan suci dan dengan mengenakan pakaian yang sederhana. Ridha dengan bekal sedikit. Tidak sedikit pun dari orientasi dunia dan masalah kehidupan menyibukkan dirinya dari menuntut ilmu. Rela menerima apa adanya, bermurah hati, bersifat manis, berniat tulus dan berhati jujur. Semua sifat-sifat tersebut nampak dalam karya-karya peninggalannya yang beraneka ragam, yang telah mendapatkan sanjungan dari para ulama dan diterima oleh umat dunia.

Menuntut Ilmu

Adalah seorang ulama yang rela menghabiskan umurnya demi berkhidmah kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Dengan tekun ia mempelajari dan menulis kitab-kitab sesuai dengan ajaran keduanya, senantiasa menghidupkan pengetahuan agama yang ia pelajari, dan berusaha menyingkap dan menggali kembali harta karun yang tersimpan dan tertimbun dari ajaran al-Qur’an dan sunnah.

Kecintaannya terhadap ilmu, rasa antusiasnya dengan pengetahuan dan kesukaannya terhadap sunah, semua itu mendorong dirinya untuk melakukan perjalanan ke Marwarraudz, demi bertemu dengan seorang Imam yang sezaman dengannya, yaitu al-Husain bin Muhammad al-Marudzi al-Qadhi. Darinya ia belajar, mendalami dan menimba ilmu serta meriwayatkan hadis. Sehingga beliau menjadi salah seorang muridnya yang paling spesial, paling paham, paling utama dan paling cerdas. Tidak sebatas itu saja, dengan semangat yang begitu tinggi, beliau mengelilingi negeri-negeri Khurasan dan menimba ilmu dari para ulamanya. Kemudian beliau meneruskan perjalanan ke kota Marwarraudz, yang merupakan tanah airnya yang kedua.

Meskipun tingginya ilmu pengetahuan yang ia miliki hingga sampai jenjang kematangan, beliau terus berdakwah kepada manusia untuk senantiasa berpegang erat dengan al-Qur’an dan sunah, sebagai sumber dasar sandaran agama dan rujukan dari berbagai permasalahan. Beliau juga menulis karya-karya yang bermanfaat demi menyebarkan ajaran al-Qur’an dan sunah, dan menyebarkan pengetahuan yang ada pada keduanya. Beliau selalu menghidupkan ajaran-ajaran keduanya, sehingga para ulama yang sezaman dan setelahnya menjulukinya sebagai Penghidup Sunah.

Mazhab Fikih

Dilatarbelakangi oleh lingkungan sekitar yang bermazhab Syafi’i, juga karena seringnya bertemu dengan para ulama mazhab tersebut dan menimba ilmu dari mereka, akhirnya beliau tumbuh mengikuti mazhab itu. Imam al-Baghawi memiliki andil yang cukup besar dalam mazhabnya, di mana beliau berhasil mengarang sebuah kitab yang berjudul at-Tahdzib. Meskipun bermazhab Syafi’i, beliau rahimahullah tidak fanatik dengan Imam asy-Syafi’i, dan tidak mau mengumbar kesalahan mazhab-mazhab yang lain. Dengan bijak beliau berusaha mengamati seluruh mazhab yang ada beserta pendapat para ulamanya. Menelaah argumen-argumen dan dalil-dalil yang mereka miliki. Lalu secara umum beliau mengambil pendapat yang menurutnya paling tepat dengan hujjah, dan paling sesuai dengan dalil.

Beliau mempelajari mazhab-mazhab ulama dan berusaha untuk menguasainya, terutama mazhab Syafi’i. Ia juga duduk bermajlis dengan para pakar bahasa dan mengambil dari mereka karangan-karangan yang mengupas habis tentang istilah-istilah asing yang ada pada hadis dan atsar.

Guru

Dalam menimba ilmu, Imam al-Baghawi rahimahullah berusaha sekuat tenaga untuk menuai ilmu dari para ulama yang sezaman dengannya. Beliau juga senantiasa meriwayatkan hadis dari para ulama hadis pada waktu itu. Ia pernah duduk menimba ilmu di hadapan lebih dari dua puluh orang guru. Berpindah dari yang satu ke yang lain, melakukan perjalanan dari satu kota ke kota yang lain. Di antara guru-guru beliau yaitu:

  • Imam besar, Abu ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Marudzi, pakar fikih kota Khurasan dan seorang Syaikh yang bermazhab Syafi’i pada masanya. Wafat pada tahun 462 H.
  • Musnid Marwa, Abu Umar ‘Abdul Wahid bin Ahmad bin Abu al-Qasim al-Malihi al-Marawi. Wafat pada tahun 463 H.
  • Pakar fikih, al-Fadhil Abu al-Hasan ‘Ali bin Yusuf al-Juwaini, yang terkenal dengan julukan Syaikhul Hijaz. Wafat pada tahun 463 H.
  • Syaikh Khurasan yang zuhud dan berilmu dimasanya, Imam Abul Qasim ‘Abdul Karim bin Abdul Malik bin Thalhah an-Naisaburi al-Qusyairi. Wafat pada tahun 465 H.
  • Mufti kota Nisaphur, Abu Turab ‘Abdul Baqi bin Yusuf bin ‘Ali bin Shalih bin ‘Abdul Malik al-Maraghi, pakar fikih yang bermazhab Syafi’i. Wafat tahun pada 492 H.
  • Imam al-Fadhil, ahli ilmu fiqih ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz al-Fasyani. Beliau mendengarkan Sunan Abu Dawud dari al-Qadhi Abu ‘Amr al-Qasim bin Ja’far al-Hasyimi, dari Abu ‘Ali al-Lu’lu’-i. Lalu mengajar dan meriwayatkan kitab tersebut di Marwa.

Dan masih banyak lagi ulama lain yang beliau rahimahullah ambil riwayat hadis-hadis mereka, dan kemudian beliau tuangkan ke dalam kitabnya Syarhus Sunnah.

Murid

Negeri Khurasan menjadi bersinar dengan ilmu dan keutamaan Imam al-Baghawi. Para penuntut ilmu pun datang untuk menemui beliau, menimba dan mengambil ilmu darinya. Di antara mereka yang duduk menimba ilmu dari beliau adalah:

  • Syaikh, al-‘Allamah, Majduddin Abu Mansur Muhammad bin As’ad bin Muhammad Hafadah al-‘Aththari, yang bermazhab Syafi’i, pakar ilmu ushul fikih dan seorang penasihat. Wafat pada tahun 571 H. Dialah yang meriwayatkan kitab Syarhus Sunnah dari Imam al-Baghawi.
  • Abul Fath Muhammad bin Muhammad ‘Ali ath-Tha-i al-Hamadzani, seorang ahli hadis dan penasihat. Wafat pada tahun 555 H.

Di antara karyanya, kitab al-Arba’in fi Irsyadis Sarin Ila Manazilil Muttaqin, yang dikumpulkan dari riwayat-riwayat yang ia dengar dari empat puluh orang Syaikh. Setiap orang dari mereka meriwayatkan hingga sampai kepada sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Abul Makarim Fadhlullah bin Muhammad an-Nauqani, penyandaran kepada kota Nauqan, Ibukota Thus. Dia adalah murid terakhir yang meriwayatkan hadis dari Imam al-Baghawi dengan cara izajah. Hidup hingga tahun enam ratusan Hijriyyah. Dialah yang memberikan ijazah kepada Fakhr ‘Ali bin al-Bukhari, guru Imam adz-Dzahabi.

Komentar Ulama

Seluruh buku-buku rujukan yang menceritakan tentang biografi beliau bersepakat akan kemuliaan derajat dan kemantapan pendiriannya di atas sunah dengan segala bidang ilmunya, kelayakannya menjadi seorang Imam dalam bidang ilmu tafsir, hadis dan fikih.

Adalah Imam adz-Dzahabi berkata: Beliau adalah seorang Imam, al-‘Allamah, suri teladan, al-Hafizh, Syaikhul Islam, Penghidup sunah, pakar tafsir dan penulis berbagai karya.

Imam as-Subki berkata seraya memuji beliau: Imam al-Baghawi dijuluki sebagai Penghidup sunah dan Tiang agama. Beliau tidak sempat masuk ke kota Baghdad. Kalau saja ia sempat masuk, niscaya biografi tentang beliau akan menjadi panjang lebar.

Ibnu al-‘Imad al-Hambali bertutur: Dia adalah pakar hadis dan tafsir, memiliki banyak karya, seorang ulama dari kota Khurasan.

Ibnu Khallikan berkata: Beliau adalah lautan ilmu. Menafsirkan firman Allah dan mampu menjelaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sulit dipahami, juga meriwayatkan hadis dan mengajar. Beliau tidak menyampaikan pelajaran melainkan dalam keadaan suci. Tatkala istrinya meninggal dunia, ia tidak mengambil dari harta warisannya sedikit pun.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: Beliau unggul dalam segala bidang ilmu. Merupakan seorang al-‘Allamah pada masanya. Taat beragama, wara’, zuhud, tekun beribadah dan ‘alim yang saleh.

Karya dan Tulisan

Adalah Imam al-Baghawi, merupakan salah satu ulama yang produktif dalam menulis karya dan tulisan. Dengan goresan pena bertinta, beliau tuangkan ilmu yang ada di dadanya di atas lembaran kertas putih, dalam rangka ikut serta menghiasi dunia ilmu dengan karya-karya ilmiah. Karya dan tulisan tersebut –walhamdulillah-, telah sampai kepada kita. Sehingga kita dapat menikmati dan menimba ilmu dari karangan-karangan beliau. Seolah-olah kita mengambil ilmu langsung dari beliau. Seolah-olah kita hidup sezaman dengan beliau. Berikut ini, akan kami sebutkan beberapa kitab karangan beliau:

  • Majmu’ah Minal Fatawa. Sebuah kitab yang menghimpun fatwa-fatwa gurunya. Sebuah karya yang membahas permasalahan fikih yang mencakup jawaban gurunya, Imam Abu al-Husain bin Muhammad al-Marudzi, terhadap suatu permasalahan. Kemudian beliau meneliti dan mengumpulkannya sesuai dengan susunan Mukhtashar al-Muzani. Sekarang, manuskrip tersebut ada di perpustakaan Darul Kutub azh-Zhahiriyyah, Damaskus, nomor: 375, bagian Fikih Syafi’i, ditulis pada tahun 913 H.
  • At-Tahdzib fi Fiqhi al-Imam asy-Syafi’i. Sebuah karya yang telah direvisi dan disusun rapi. Hampir tidak terdapat dalil di dalamnya. Sebab buku ini memuat komentar gurunya, Syaikh al-Qadhi Husain. Kemudian ia menambah dan menguranginya. Merupakan sebuah buku yang cukup populer di kalangan mazhab Syafi’i. Mereka mengambil faedah darinya, menukil dari perkataannya dan sering dijadikan sebagai sandaran dalam berbagai permasalahan. Di perpustakaan Darul Kutub azh-Zhahiriyyah terdapat jilid keempat dari buku ini, dengan nomor: 292,  bagian Fikih Syafi’i, dengan tahun penulisan 599 H.
  • Ma’alim at-Tanzil. Sebuah buku tafsir sederhana yang mencakup perkataan kaum salaf dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Dilengkapi dengan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang datang bersamaan dengan ayat atau penjelasan suatu hukum.

Dalam Majmu’ Fatawa (juz 2, hlm 193) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya tentang kitab tafsir yang paling mendekati al-Qur’an dan as-Sunnah, tafsir karya az-Zamakhsyari, al-Qurthubi, al-Baghawi atau tafsir lainnya? Beliau menjawab: Adapun tiga buku tafsir yang ditanyakan, maka yang lebih selamat dari bid’ah dan hadis-hadis lemah adalah kitab tafsir karya Imam al-Baghawi. Buku tersebut telah dicetak lebih dari sekali. Namun, semua cetakan tidak luput dari perubahan dan kesalahan penulisan, oleh sebab itu layak untuk lebih diperhatikan, kemudian dicetak secara ilmiah setelah diedit kembali.

  • Mashaabihus Sunnah. Didalamnya beliau mengumpulkan sejumlah hadis-hadis yang telah ditulis oleh para Imam ahli hadis tanpa sanad. Beliau menggolongkan hadis-hadis tersebut menjadi kelompok hadis-hadis sahih dan hasan. Beliau juga perhatian dengan hadis-hadis sahih yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim, atau salah satu dari mereka, juga dengan hadis-hadis hasan yang dikeluarkan oleh Ashabus Sunan.

Buku tersebut telah di cetak berulang kali, begitu populer, tersebar luas dan mendapat perhatian para ulama, baik dengan membaca, berkomentar atau memberikan penjelasan. Al-Khatib at-Tabrizi pun bersandar kepada buku ini. Beliau memberi tambahan lalu menyusunnya kembali dalam buku Misykatul Mashabih. Buku ini dicetak lebih dari sekali di Negeri Turkistan dan India. Adapun cetakan terbaik dari buku ini, adalah cetakan terakhir yang disebarkan oleh penerbit al-Maktab al-Islami, setelah diteliti oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

  • Syarhus Sunnah.
  • al-Jami’ baina ash-Shahihain.
  •  al-Arba’ina Haditsan, dll.

Wafat

Nara sumber yang menerangkan biografi tentang beliau tidak menyebutkan tahun berapa ia dilahirkan. Hanya saja, para ahli sejarah yang menjelaskan biografinya mengatakan, beliau wafat pada tahun 516 H. Mereka bertutur, umur beliau mencapai delapan puluh tahun atau lebih. Dan perkiraan yang lebih kuat, bahwa beliau lahir pada tahun empat puluhan dari abad ke-5 Hijriah.

Imam al-Baghawi menulis kitab-kitab yang bernilai dalam bidang ilmu tafsir, hadis dan fikih. Dan para pelajar pun memanfaatkan ilmunya yang berlimpah, pemikirannya yang cemerlang dan pengetahuannya yang bernilai, hingga kematian datang menjemputnya di kota Marwarraudz pada bulan Syawal, tahun 516 H. Beliau dikebumikan bersebelahan dengan gurunya, Syaikh al-Qadhi Husain, di pemakaman ath-Thaliqani.

Semoga Allah merahmati Imam, membalas segala tenaga yang ia kerahkan untuk membela sunah dengan balasan yang setimpal, dan memasukkan dirinya ke dalam surga-Nya di akhirat kelak. Amin.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *