Beberapa kalimat berikut merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Mereka Pergi Dengan Membawa Pahala (seri 1),” yang merupakan penjelasan ringkas dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, yang di antaranya berisi penjelasan tentang beberapa cara bersedekah dengan selain harta. Berikut penjelasan lanjutannya. Semoga bermanfaat.
Bersedekah dengan Selain Harta
Hadis di atas menjelaskan kepada kita beberapa macam sedekah dengan selain harta yang dapat diamalkan oleh orang miskin. Apabila kita mau menelaah sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan tentang sedekah, maka akan banyak kita dapati hadis-hadis yang menjelaskan tata cara sedekah dengan selain harta. Maka itu, pada pembahasan ini, kita akan sebutkan beberapa contoh cara bersedekah yang dapat dikerjakan oleh orang yang miskin dengan selain harta.
1). al-Baqiyat ash-Sholihat adalah sedekah
Allah ta’ala berfirman:
الْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. al-Kahfi: 46)
Mayoritas ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-Baqiyat ash-Shalihat (amalan-amalan yang kekal lagi shalih) dalam ayat ini adalah ucapan subhanallahu, alhamdulillah, la ilaha illallahu dan Allahu akbar. Mengucapkan keempat kalimat tersebut merupakan bentuk sedekah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas:
إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً
Sesungguhnya setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap takbir (ucapan Allahu akbar) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan la ilaha illallah) adalah sedekah.
Berbicara tentang empat kalimat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan dan keistimewaannya. Berikut ini beberapa keutamaannya:
Pertama: Kalimat ini paling Allah cintai
أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ
Ucapan yang paling Allah cintai ada empat; subhanallahu, alhamdulillah, la ilaha illallahu, dan Allahu akbar. Tidak mengapa engkau memulainya dengan yang mana saja. (HR. Muslim)
Kedua: Kalimat ini lebih baik dari dunia dan seisinya
َلأَنْ أَقُوْلَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
Aku mengucapkan subhanallahu, alhamdulillah, la ilaha illallah dan Allahu akbar lebih aku cintai dari pada tempat terbitnya matahari (yakni dunia). (HR. Muslim)
Ketiga: Kalimat ini menjadi sebab dihapuskannya dosa
مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ
Tidaklah seorang di bumi ini mengucapkan la ilaha illallah, Allahu akbar, subhanallahu, alhamdulillah, dan la haula wa la quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus meskipun lebih banyak dari buih di lautan. (Hadis hasan. Riwayat Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim. Lihat Shahih al-Jami’, no. 5636)
Keempat: Dan cukuplah menjadi keistimewaan dan keutamaan bagi beberapa kalimat mulia ini, ketika kita mengucapkannya setiap hari untuk berzikir kepada Allah seusai salat lima waktu dengan tata cara yang telah dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2). Amar Makruf & Nahi Mungkar adalah sedekah
Hal ini sebagaimana ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ
Memerintahkan kepada yang ma’ruf adalah sedekah, melarang dari hal yang munkar adalah sedekah.
Yang demikian, karena hal ini merupakan perbuatan baik yang kita berikan kepada orang lain. Sehingga dapat bernilai sedekah bagi kita. Bahkan, bisa jadi hal ini lebih utama dari para bersedekah dengan harta. Bagaimana tidak, Allah ta’ala berfirman dalam beberapa ayat al-Qur`an tentang keutamaan amar makruf dan nahi mungkar. Firman-Nya:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imron: 110)
Orang-orang yang menegakkan amar makruf dan nahi mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung. Allah ta’ala berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imron: 104)
3). Menyalurkan Syahwat di tempat yang halal adalah sedekah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( …. وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ))، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ! أَيَأتِيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: ((أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا))
….. dan seorang dari kalian yang menggauli istrinya adalah sedekah. Sahabat berkata: Wahai Rasulullah, seorang dari kami mendatangi syahwatnya apakah ia juga mendapatkan pahala? Beliau menjawab: Bagaimana menurut kalian bila ia meletakkan syahwatnya pada (tempat) yang haram, apakah ia akan mendapat dosa? Demikian pula bila ia meletakkan pada yang (tempat) halal niscaya ia akan mendapatkan pahala.
Ulama menjelaskan, hal tersebut akan bernilai ibadah bagi seseorang, bila dalam melakukannya ia berniat untuk menjaga kesucian dirinya dan istrinya, memenuhi hak istri, menggaulinya dengan baik, mengharapkan hadirnya keturunan yang saleh, sehingga hal itu dapat bernilai sedekah. Namun sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa seorang suami yang mendatangi istrinya meskipun tanpa niat, yakni hanya sekedar menyalurkan keinginannya, maka dalam hal ini ia juga mendapat pahala dari Allah ta’ala. Wallahu a’lam.
4). Beberapa Macam Sedekah dalam Hadis Nabi
Tidak hanya berhenti sampai di sini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan aneka ragam sedekah dengan selain harta kepada kita. Namun pada hadis-hadis yang lain beliau menyebutkan macam-macam sedekah dengan selain harta yang lainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari:
كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ: يَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَيُمِيْطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ
Setiap ruas tulang rusuk manusia harus disedekahi setiap harinya selama matahari masih terbit; mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, membantu seseorang untuk menaiki tunggangannya atau mengangkat barang ketunggangannya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju salat adalah sedekah, menyingkirkan gangguan dari jalan juga sedekah.
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
… وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
Semua itu (yakni sedekah bagi setiap ruas tulang rusuk) dapat dicukupi dengan mengerjakan dua rekaat salat dhuha.
5). Senyum adalah Sedekah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa tersenyum adalah sedekah. Beliau bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
Senyummu di wajah saudaramu bernilai sedekah bagimua. (Hadis hasan. Lihat: ash-Shohihah, no. 572)
6). Sedekah Mencakup segala hal yang makruf
Dari Hudzaifah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ
Setiap hal makruf adalah sedekah. (HR. Muslim)
Yakni akan dihitung sebagai sedekah dari sisi pahalanya. (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim)
Ulama menjelaskan bahwa makna makruf adalah segala amalan yang baik yang dilihat dari sisi syari’at dan akal. Dan kita dilarang untuk meremehkan perbuatan makruf meskipun terlihat sepele. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Janganlah sedikit pun engkau meremehkan perbuatan yang makruf meskipun sekedar tersenyum ketika bertemu dengan saudaramu. (HR. Muslim)
Harta Karunia Bermata Dua
Menutup tulisan ini, pada kisah lain yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya para furoqo` dari para sahabat mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Saudara kami yang berharta mendengar apa yang kami perbuat lalu mereka juga mengamalkannya.”
Ketika mendengar hal tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَشَاءُ
(Harta) itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada hamba yang Dia kehendaki.
Harta adalah harta. Bila digunakan untuk kebaikan dapat berbuah pahala. Namun sebaliknya, bila dipakai untuk keburukan justru malah berbuah siksa. Maka itu, hendaklah kita mensyukuri segala anugerah Allah azza wa jalla yang ada pada kita, baik berupa kelebihan atau mungkin kekurangan. Syukuri apa adanya, amat sedikit dari hamba-Nya yang bersyukur. Firman-Nya:
وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur. (QS. Saba`: 13)
Wallahu ta’ala a’lam.