Biografi Ringkas Imam Muslim

 

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim” inilah ungkapan yang begitu akrab di telinga kita ketika duduk mendengarkan kajian atau membuka lembaran buku para ulama yang berisi ilmu. Siapa dari kita yang tidak pernah mendengar Imam Muslim rahimahullah? Nama beliau dan kitab Shahih-nya sangat dikenal manusia di seluruh penjuru dunia. Namun hanya sedikit dari kita yang mengetahui seluk-beluk kehidupan beliau. Maka itu, pada tulisan ini akan diketengahkan biografi ringkas Imam Muslim beserta kitab beliau Shahih Muslim. Semoga bermanfaat.

(1). IMAM MUSLIM 

Nama

Nama beliau adalah Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Wardi al-Qusyairi an-Naisaburi rahimahullah. Sedangkan kunyah beliau adalah Abul Husain. Beliau adalah seorang Imam besar, al-Hafizh, pakar tajwid dan al-Hujjah.

Kelahiran

Imam Muslim dilahirkan di kota Nishapur (Naisabur) pada tahun 204 H.

Menuntut Ilmu

Dalam perjalanan menuntut ilmu Imam Muslim rahimahullah berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain. Ia pernah mengadakan perjalanan ke kota Hijaz, Syam, Irak, dan tak ketinggalan kota Mesir pun pernah ia kunjungi.

Tatkala Imam al-Bukhari rahimahullah mengadakan perjalanan ke kota Nishapur, Imam Muslim duduk di hadapannya untuk menimba ilmu dari beliau. Ia melihat luasnya ilmu al-Bukhari dan beliau mengikuti jejaknya dalam menuntut ilmu hadis.

Guru Beliau

Imam Muslim menimba ilmu dari banyak guru dan pakar hadis yang mulia, di antara mereka Imam al-Bukhari, Yahya bin Yahya an-Naisaburi, Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Rohawayh, Muhammad bin ‘Amr, Muhammad bin Mihron, Ibrahim bin Musa al-Farro`, Ahmad bin Ahmbal, ‘Ubaidillah al-Qowariri, az-Zahroni rahimahumullah dan ulama-ulama yang lainnya.

Murid Beliau

Setelah sekian tahun menimba ilmu dari para imam tersebut, Imam Muslim rahimahullah menjadi seorang pakar hadis yang masyhur di kala itu. Kemudian beliau mulai menyebarkan ilmu agama dan mengajarkan hadis beserta cabang ilmunya kepada murid-muridnya. Sehingga banyak para penuntut ilmu yang duduk mengitari beliau untuk menimba ilmu hadis dan mengambil faedah dari keterangan dan penjelasan beliau.

Dari majelis Imam Muslim muncul nama-nama ulama masyhur yang merupakan murid dari  beliau. Di antara murid-murid beliau adalah Abu Isa at-Tirmidzi penyusun kitab Sunan at-Tirmidzi (Jami’ at-Tirmidzi) dan beliau pun meriwayatkan hadis dari at-Tirmidzi namun hanya sebuah hadis saja. Di antara murid beliau juga adalah Yahya bin Sha’id, Muhammad bin Makhlad, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Muhammad bin Abdulwahhab al-Farro`, Abu Bakar al-Jarudi, Abu ‘Awanah al-Isfaro’ini, Ali bin al-Husain, Abu Hamid al-A’masyi rahimahumullah dan yang lainnya.

Sifat & Akhlak

Imam Muslim rahimahullah merupakan salah satu Imam ahli hadis yang sangat menonjol, berpandangan luas dan begitu kuat hafalannya. Selain itu, beliau juga seorang alim yang pemberani dan tulus dalam membela kebenaran dan para pengemban kebenaran di waktu luang dan sempit.

Beliau rahimahullah pernah berdiri di samping Imam al-Bukhari rahimahullah untuk menolong dan membela beliau seraya menantang orang-orang yang memusuhi Imam al-Bukhari tanpa peduli kekuatan mereka.

Di sisi lain, beliau tersifati dengan kehati-hatian dalam berkata dan berbuat, rajin beribadah dan berilmu luas. Oleh karena itu, beliau amat agung di mata manusia dan begitu tinggi kedudukan beliau di hadapan mereka.

Pujian Ulama

Oleh karena beberapa sifat agung beliau, banyak pujian dan sanjungan ulama yang ditujukan kepadanya rahimahullah. Ahmad bin Salamah rahimahullah berkata: “Aku melihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim lebih mendahulukan Muslim bin al-Hajjaj dari para ulama lain yang sezaman dengan beliau.”

Ishaq bin Manshur rahimahullah pernah berkata kepada Imam Muslim: “Kita tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah mengizinkan engkau hidup di tengah kaum muslimin.”

Muhammad bin Abdulwahhab al-Farro` rahimahullah berkata: “Muslim adalah orang yang alim, tidaklah aku mengetahui darinya kecuali kebaikan.”

Ibnul Akhrom rahimahullah berkata: “Sesungguhnya kota kita ini hanya melahirkan tiga ulama hadis saja: Muhammad bin Yahya, Ibrohim bin Abi Thalib dan Muslim.”

Bandar rahimahullah berkata: “al-Hafizh dalam ilmu hadis ada empat: Abu Zur’ah, Muhammad bin Isma’il (yakni al-Bukhari), ad-Darimi dan Muslim.”

Karya-Karya

Telah disebutkan di muka bahwa Imam Muslim rahimahullah hidup pada abad ke-3 H, yakni pada tahun 261 H. Abad tersebut merupakan masa keemasan pada sejarah Islam, di mana pergerakan ilmu pada waktu itu mencapai puncaknya, terutama dalam hal penulisan kitab.

Imam Muslim pun ikut andil dalam hal ini, begitu banyak kitab agung yang berisi banyak manfaat yang telah beliau tulis. Berikut di antara karya beliau: kitab al-Jami’ ash-Shahih (Shahih Muslim), kitab al-Asma` wa al-Kuna, kitab at-Tamyiz, kitab al-`Ilal wa al-Wahdan, kitab al-Afrad, kitab al-Aqron, kitab ath-Thobaqot dan beberapa kitab lainnya.

Wafat

Imam Muslim wafat di kota kelahirannya Nishapur pada tahun 261 H. Demikianlah kehidupan beliau penuh dengan aktivitas-aktivitas besar nan agung. Beliau telah meninggalkan peninggalan-peninggalan berharga dalam berkhidmah kepada as-Sunnah an-Nabawiyyah.

Demikian pula, begitu banyak ulama yang memuji beliau. Sebagaimana banyak pula ilmu yang telah beliau tinggalkan kepada generasi setelahnya. Semoga Allah membalas kebaikan yang melimpah kepada beliau. Amin.

(2). SHAHIH MUSLIM

Shahih Muslim adalah sebuah kitab masyhur karya besar Imam Muslim rahimahullah. Beliau mengumpulkan dalam kitab tersebut hadis-hadis sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. al-Husain bin Muhammad al-Masarjisi rahimahullah mengatakan: “Aku mendengar Muslim berkata: ‘Aku menyusun kitab Musnid Shahih (Shahih Muslim) ini dari tiga ratus ribu hadis yang aku dengar sendiri.’ “

Imam an-Nawawi rahimahullah sebagai pensyarah kitab tersebut menuturkan: “Dalam menyusun kitab tersebut beliau menggunakan metode-metode yang baik sekali dalam hal kehati-hatian, kesempurnaan, ketelitian dan pengetahuan, yang mana jarang sekali pada setiap masa orang bisa melakukan hal tersebut.”

Ibnu ash-Shalah rahimahullah menyebutkan bahwa jumlah hadis di dalam kitab ini tanpa pengulangan sekitar empat ribu hadis. Al-‘Iroqi rahimahullah mengatakan bahwa jumlah hadisnya dengan pengulangan lebih banyak dari pada jumlah hadis di dalam kitab Shahih al-Bukhari karena saking banyaknya jalan-jalan periwayatannya.

Antara kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim

Jumhur ulama atau bahkan seluruhnya sepakat bahwasanya dari sisi kesahihan, kitab Shahih Muslim berada pada urutan kedua setelah Shahih al-Bukhari. Telah dikatakan perbandingan antara kedua kitab tersebut:

تَشَاجَرَ قَوْمٌ فِي الْبُخَارِيِّ وَمُسْلِمٍ             لَـدَيَّ وَقَالُوْا: أَيُّ ذَيْنِ تُقَــدِّمُ

فَقُلْتُ:  لَقَدْ فَاقَ الْبُخَارِيُّ صِحَّةً            كَمَا فَاقَ فِي حُسْنِ الصِّنَاعَةِ مُسْلِمُ

 

Suatu kaum berselisih dalam menilai Shahih al-Bukhari dan Muslim padaku

Mereka berkata: Manakah dari keduanya yang lebih engkau utamakan

Maka kukatakan: Sungguh Imam al-Bukhari unggul dalam hal keshahihan

Sebagaimana juga Imam Muslim unggul dalam hal bagusnya penyusunan

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Ulama sepakat bahwa kitab paling sahih setelah al-Qur`an mulia adalah dua kitab Shahih: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Namun kitab al-Bukhari lebih sahih dan lebih banyak faedahnya baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Beliau juga berkata: “Apa yang kami sebutkan ini, yakni lebih diutamakannya kitab al-Bukhari adalah pendapat pilihan jumhur ulama.” Hal serupa juga disampaikan oleh Ibnu Katsir di dalam kitabnya Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits. Namun, meski demikian ada beberapa ulama yang lebih mengutamakan Shahih Muslim dari pada Shahih al-Bukhari, di antara mereka adalah Abu Ali al-Husain bin Ali an-Naisaburi, guru Imam al-Hakim, dan Imam al-Qurthubi.

Dua Faedah Penting

Pertama: Kedua kitab Shahih tersebut tidak mengumpulkan seluruh hadis sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi pada kitab-kitab hadis selain keduanya banyak terdapat hadis sahih yang belum diriwayatkan oleh keduanya.

Kedua: Para ulama telah sepakat bahwa kedua kitab Shahih tersebut adalah kitab hadis paling sahih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkomentar: “Tidaklah kedua Imam tersebut bersepakat atas sebuah hadis melainkan hadis tersebut pasti sahih tidak diragukan lagi.”

Beliau rahimahullah juga berkata: “Mayoritas matan hadis pada kedua kitab tersebut diketahui oleh para ulama dengan pengetahuan pasti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengucapkannya.”

 

[Referensi: al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits, Ahmad Syakir, hal. 36, Jam’iyyah Ihya’ at-Turots, Kuwait. Nuzhah al-Fuhdola’ Tahdzib Siyar A’lam an-Nubala’, Muhammad Hasan ‘Aqil Musa, hal. 923-924, Dar al-Andalus, Jedah. Mushthalah al-Hadis, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal. 90-92, cetakan Jami’ah al-Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah. Baina al-Imamain Muslim wa ad-Daruquthni, Robi` bin Hadi al-Madkholi, hal. 11-15, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh. dll.]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *