Semoga Allah Binasakan Siapapun Yang Mencela Mereka

Kami menetapkan adanya Khilafah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pertama (kami tetapkan) kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan segala keutamaan yang dimilikinya di atas seluruh umat. Kemudian kepada Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu,, kemudian kepada Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, dan selanjutnya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Mereka adalah Khulafa’ur Rasyidin dan para imam yang senantiasa berada di atas petunjuk. [Matn al-Aqidah ath-Thahawiyyah, No. 94, Abu Ja’far ath-Thahawi al-Hanafi]

(Ahlus Sunnah wal Jamaah berikrar) bahwa sebaik-baik umat ini setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita adalah Abu Bakar, kemudian Umar, dan yang ketiga adalah Utsman, sedangkan yang keempat adalah Ali radhiyallahu ‘anhum. [Matn al-Aqidah al-Wasithiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

شَهِدْتُ بِأَنَّ اللّهَ لاَ رَبَّ غَيْــرُهُ              وَأَشْهَدُ أَنَّ البَعْثَ حَقٌّ وَأَخْلَــصُ

وَأَنَّ عُـرَى الإِيْمَانِ قَوْلٌ  مُبَـيَّنٌ              وَ فِعْلٌ زَكِيٌّ قَدْ  يَزِيْدُ وَ يَنْقُــصُ

وَ أَنَّ  أَبَا بَكْرٍ خَلِيْـفَةُ رَبِّـــهِ             وَكَانَ أَبُوْ حَفْصٍ عَلَى الخَيْرِ يَحْرِصُ

وَأَشْهَدُ رَبِّيْ أَنَّ عُثْمَانَ فَاضِــلٌ              وَ أَنَّ عَلِياًّ فَضْـلُهُ مُتَخَصِّـــصُ

أَئِمَّةُ قَوْمٍ يُهْـتَـدَى بِهُـدَاهُـمْ              لَحَى اللّـهُ مَنْ  إِيَّاهُمْ  يَتَنَقَّــصُ

 

Aku bersaksi, bahwa Allah, tiada tuhan haq selain-Nya

dan aku bersaksi bahwa kebangkitan itu benar adanya

dan tali kokoh keimanan adalah ucapan yang terang

juga perbuatan yang baik, terkadang berlebih dan berkurang

dan bahwasanya Abu Bakar adalah Khalifah Rabb-nya

Abu Hafs (Umar), pada kebaikan ia berantusias senantiasa

Aku bersaksi, demi Rabb-ku, Utsman adalah sahabat mulia

demikian pula Ali memiliki keutamaan yang istimewa

Mereka para pemimpin, sepantasnya ditiru petunjuknya

Semoga Allah binasakan siapapun yang mencela mereka

 

[Diwan al-Imam asy-Syafi’i, Qafiyah ash-Shaad, Cet. Darul Fikr, Th. 1409 H. – 1988 M]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *