Nasihat Hari Raya (Bagian Terakhir)

Telah disampaikan pada tulisan sebelumnya beberapa nasihat hari raya. Ini merupakan tulisan terakhir yang berisi beberapa nasihat lainnya. Semoga ikhlas dan tulus karena Allah subhanahu wa ta’ala dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

KEDELAPAN: Kurang perhatian dengan shalat wajib lima waktu

Di antara perkara menyedihkan yang tampak dari sebagian kaum muslimin ialah kurang perhatian dengan shalat lima waktu. Padahal shalat lima waktuhukumnya wajib.Barang siapa yang mengingkari kewajibannya maka dapat mengeluarkan dirinya dari Islam. Selain itu, shalat lima waktu merupakan rukun Islam yang wajib ditunaikan. Demikian pula termasuk wasiat akhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum meninggal dunia. Sungguh merugi seorang hamba yang kurang memperhatikan shalat wajib lima waktu.

Anehnya, sebagian kaum muslimin rajin mengerjakan shalat tarawih sebagaimana mereka antusias ikut melaksanakan shalat Ied. Padahal kedua shalat tersebut hukumnya sunnah. Sementara itu mereka kurang memperhatikan shalat lima waktu yang hukumnya wajib.

Tak jarang kita dapati sebagian mereka begadang pada malam hari raya, namun sesaat menjelang masuknya waktu fajar mereka tertidur pulas, tidaklah bangun melainkan menjelang pelaksanaan shalat hari raya, itu pun jika mereka bangun dan hadir. Bisa jadi, tidaklah mereka bangun melainkan mendekati shalat dzuhur. Jika azan dzuhur dikumandangkan, mereka bangun untuk mandi lalu melakukan aktivitas sehari-hari. Ternyata mereka tidak pergi ke masjid atau minimal menggelar sajadah di rumah untuk melaksanakan shalat dzuhur. Mereka lupa atau pura-pura lupa atau sengaja melupakannya. Hanya kepada Allah semata kita memohon pertolongan.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membimbing kita untuk senantiasa istiqomah dalam melaksanakan shalat lima waktu dan membukakan hati sebagian saudara kita yang masih kurang perhatian dengannya. Semoga hidayah Allah senantiasa bersama kita dan mereka.

KESEMBILAN: Kurang perhatian dengan fakir miskin di lingkungannya

Hari raya merupakan hari suka cita dan bahagia. Baik yang muda maupun yang tua, laki-laki ataupun wanita.Semuanya berbahagia dengan hari istimewa tersebut. Mereka yang kaya begitu berbahagia, demikian pula semestinya dengan orang-orang yang miskin atau papa. Namun ironisnya, terkadang orang-orang yang miskin tidak mendapatkan perhatian dari tetangganya yang kaya. Mereka tidak tersentuh oleh sedekah, hadiah, bantuan atau pemberian lainnya.

Yang lebih memperkeruh suasana, bila orang-orang yang kaya menampakkan kekayaan mereka di hadapan golongan yang papa.Anak-anak si kaya keluar dengan mengenakan pakaian baru, sandal atau sepatu baru, dengan membawa permen dan makanan ringan di hadapan anak-anak si miskin tanpa berbagi sedikitpun. Fenomena negatif ini,tentu sangat tidak patut dilakukan.

Ketahuilah saudaraku, keimananmu tidak akan sempurna hingga engkau mencintai bagi saudaraku sebagaimana engkau mencintai bagi dirimu sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna keimanan seorang dari kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai bagi dirinya sendiri. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bila engkau -wahai orang kaya- ingin mereka yang miskin perhatian denganmu maka perhatikanlah mereka. Demikian pula, bila engkau tidak ingin disakiti oleh mereka maka janganlah engkau menyakiti mereka. Bantulah mereka, niscaya Allah akan membantumu. Tolonglah mereka, niscaya Allah akan memberimu pertolongan. Sebab “Allah akan senantiasa membantu seorang hamba selama ia membantu saudaranya.” (HR. Muslim)Semoga Allah menjadikan kita yang kaya begitu perhatian dengan sebagian kita yang papa. Semoga Allah selalu memberkahi hartamu, wahai saudaraku.

KESEPULUH: Fenomena kembang api dan petasan atau mercon

Di antara kebiasaan yang digandrungi oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia adalah menyalakan kembang api dan petasan atau mercon. Dua benda tersebut biasa dinyalakan pada momen-momen tertentu seperti pada malam hari raya atau pada hari rayanya. Bahkan hal tersebut hampir merata di seluruh tanah air kita Indonesia.

Saudaraku, seorang muslim tidaklah melontarkan sebuah kalimat atau melakukan sebuah perbuatan kecuali didasari oleh ilmu. Demikian pula halnya dengan fenomena kembang api dan petasan atau mercon. Hendaknya kita menimbang-nimbang antara maslahat dan mudaratnya. Bila lebih banyak mudaratnya maka sudah sepatutnya seorang muslim menjauhinya. Dan di sini, akan disuguhkan beberapa pertimbangan sebelum engkau menyalakan dua benda tersebut.

Pertama: Jika dilihat kemaslahatan dari menyalakan dua benda tersebut, maka yang akan kita dapati hanya kepuasan diri, tidak lebih dari itu. Jika ada seorang yang niatnya ingin menghibur orang lain, maka nyatanya tidak sedikit dari manusia yang terganggu –bahkan sangat terganggu- dengannya. Ketahuilah, sekedar niat yang baik tidak cukup menjadi modal untuk menghibur orang lain. Namun hiburannya pun musti sejalan dengan Syariat atau tidak melanggarnya. Seperti menghiburkan dengan memberi hadiah, membelikan buku agama dan lain sebagainya. Yang terakhir ini tentu lebih bermanfaat dan berpahala dari pada petasan.

Kedua: Sifat boros lebih dekat kepada orang yang membelanjakan hartanya untuk membeli dua benda tersebut. Sementara kepuasan yang ada hanya dalam hitungan detik. Selanjutnya yang ada hanya penyesalan, karena telah mengeluarkan harta tidak sedikit untuk membelinya. Bayangkan, satu buah kembang api atau petasan yang menyala tidak sampai satu menit, harganya bisa mencapai ratusan ribu atau bahkan lebih dari itu.

Ketiga: Kedua benda tersebut berpotensi besar mengganggu orang lain. sementara seorang muslim tidak diperkenankan menyakiti muslim lainnya dengan perkataan dan perbuatan. “Muslim sejati adalah apabila kaum muslimin yang lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” Demikian kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Keempat: Tak jarang kedua benda tersebut menelan korban. Tidak sekedar luka ringan, bahkan beberapa kejadian membawa kepada cacat seumur hidup -seperti putus tangan atau kaki- atau bahkan meninggal dunia. Tidaklah peristiwa demi peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi kita?! Sebuah duri saja bila ada di jalan kaum muslimin kita diperintahkan untuk menyingkirkan, dan itu merupakan ibadah. Lantas, bagaimana dengan benda berbahaya seperti petasan?! Tentu saja lebih utama lagi untuk disingkirkan dan dihindarkan dari jalanan kaum muslimin.

Kelima: Dua benda tersebut bukanlah dari kebiasaan kaum muslimin. Keduanya dari kebiasaan orang-orang non muslim. Api merupakan benda yang diagung-agungkan bahkan sampai dipertuhankan oleh orang-orang Majusi, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa, “Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk ke dalamnya.” (Hadis sahih riwayat Abu Dawud)

Keenam: Petasan atau mercon merupakan benda yang dilarang oleh negara. Membeli dan menyalakannya berarti bentuk pembangkangan dan tidak taat kepada pihak yang berwenang. Padahal, peraturan mereka untuk kemaslahatan bersama yang musti ditaati.

Ketujuh: Dalam kaidah fikih dikatakan, “Mudarat itu hendaknya dihilangkan”. Benda tersebut dapat menyebabkan datangnya mudarat, maka itu hendaknya disingkirkan dari tengah-tengah kaum muslimin.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk menjauhkan benda tersebut dari keluarga dan masyarakat kita.

Saudaraku, demikianlah beberapa nasihat dari sahabatmu –semoga Allah memberikan ketulusan pada nasihatku ini-. Tidaklah nasihat ini aku sampaikan melainkan karena cinta dan kasih sayang kepada dirimu. Agar hari raya mulia kita terhiasi dengan kebaikan dan jauh dari keburukan, dan agar Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada kita semua. Demikianlah nasihat ringkas ini, semoga dapat memberi pengaruh positif bagi kita semua.

Selesai. Walhamdulillah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *